Ini adalah salah satu catatan dari teh Dinny yg saya copy untuk menyemengati ibu2 yang sedang menyusui khususnya, atau calon ibu nantinya biar bisa memberikan ASI EKSKLUSIF kepada si buah hati tercinta.
Tulisan ini semakin buat semangat saya makin besar untuk menjadikan Imma seorang Baby yang lulus ASI EKSKLUSIF. Perjuangan Mba Kemijem sungguh2 Luar biasa. Memang banyak tantangan yang kita hadapi ketika kita memilih untuk memberikan ASI EKSKLUSIF. Tapi, apapun itu semua pasti ada jalan keluarnya. Hubungi teman2 yang peduli dengan ASI seperti TIM KLASI BAndung ato aku jika bermasalah dengan pemberian ASI. Saya juga masih belajar untuk terus gali ilmu tentang ASI agar nantinya bisa membantu teman2 yang kesulitan memberikan ASI.
ASI : Spesial for My Lovely Baby, Imma...
------------------------------------------------------------
12 Agustus 2009 jam 18:33 Dear all,
Masih ingat sharing Ira (tim KLASI Bandung) yang berkisah Mba Kemijem yang terjebak aturan rumah sakit di sebuah rumah Sakit Swasta di kawasan timur Bandung yang bayinya tidak bisa di susui oleh ibunya langsung setelah melahirkan ? Alhamdulillah bayi Mba Kemijem lulus ASI EKSLUSIF dengan segala keterbatasannya. Berikut cerita Ira selengkapnya, Ira tidak bisa posting langsung karena sedang menunggu Ayahnya yang sakit di RS dan mohon maaf jika terlalu panjang karena cerita di mulai saat Mba Kemijem hamil sampai bayinya lulus ASI ekslusif.
wassalam,
Dinny
-------------------------- ----------------------
ASI, Kasih Sayang, Pengorbanan dan Solidaritas antar Sesama manusia
Bagi saya pribadi, bisa memberikan ASI ekslusif 6 bulan kepada bayi memiliki makna yang luas, bukan semata-mata memberikan asupan yang terbaik untuk bayi atau terciptanya bonding (ikatan batin) yang kuat antara ibu dan bayi, tetapi lebih dari itu. Dari ASI, saya mendapatkan pelajaran hidup yang sangat berharga, membuat saya lebih bisa memaknai hidup, serta lebih mensyukuri nikmat dan karunia Maha Pencipta.
Salah satu dari sekian banyak yang pernah saya lalui bersama ASI adalah cerita perjuangan Mba Kemijem, saya punya alasan kenapa cerita Mba Kemijem yang saya angkat kali ini, karena dalam cerita ini betapa banyaknya Mba Kemi (nama panggilan Mba Kemijem) menghadapi rintangan dengan segala keterbastasan yang dimilikinya, ia tidak pernah menyerah, dalam cerita ini teman-teman di uji rasa solidaritas dan keikhlasan kami ketika membantu Mba Kemi.
Mba Kemi adalah seorang buruh pabrik yang pada waktu itu sedang hamil anak kedua, orangnya tidak banyak bicara, setiap mengikuti kelas asi di musola hanya diam mendengarkan saya membaca artikel tentang ASI. Suatu hari saya tembak dia dengan bertanya mengenai rencana Mba Kemi melahirkan bayinya. Jawabannya saat itu adalah “saya belum tau, sepertinya saya akan melahirkan di Jawa Tengah kampung halaman saya, dan saya akan menitipkan bayi saya pada orang tua saya di kampung ketika nanti cuti melahirkan habis. Sebab untuk melahirkan di sini tidak memungkinkan, nanti setelah saya masuk kerja siapa yang akan mengurus bayi saya”
Mendengar jawaban Mba, saya bertanya lagi, “Apa Mba ngak kepengen memberikan bayinya ASI Ekslusif ?” Mba hanya tersenyum menanggapi pertanyaan saya. Sejak saat itu saya mulai berfikir keras bagaimana caranya supaya bisa membantu si Mba agar mau berjuang memberikan ASI Ekslusif u bayinya. Saya ngak banyak memaksa mba, saya cuma mengajak dia untuk rajin datang ke musola sama-sama belajar tentang ASI. Saya membayangkan bagaimana jika saya berada diposisi mba dengan segala keterbatasannya, saat itu yang bisa saya lakukan adalah berusaha membangkitkan semangat Mbak Kemi untuk mau “berjuang” demi ASI. Alhamdulillah Mba rajin sekali hadir di musola, sesekali saya tanya “Mba artikel asinya, suka di baca ngak di rumah ?”, Mba menjawab “Sering bu, malah kalo saya cape suami saya yang membacakan artikel tsb untuk saya”. Dalam hati saya bersyukur sekali mendengar jawabannya, berarti sudah ada kemauan dari Mba dan suaminya.
Hari-hari pun berlalu, sesekali saya lontarkan pertanyaan pada mba tentang rencana melahirkan bayinya, jawabannya masih sama dengan jawaban peratama. Ketika kehamilannya semakin besar ada perkembangan yang mengejutkan akhirnya mba mulai berubah pikiran, mba berniat melahirkan di Rancaekek tempat Mba dan Suaminya bermukim saat itu.
Namun ternyata persoalannya tidak semudah itu, kendala yg dihadapi oleh mba adalah pertama dia harus mencari pengasuh bayinya, yang kedua adalah kontrakan tempat tinggal mba tidak memiliki daya listrik yang cukup untuk menyalakan sebuah kulkas dan memiliki daya listrik yg kecil yaitu 225 watt, dipakai untuk menyalakan tv, lampu, akuarium , radio, rice cooker dll maka kalo kalo ditambah kulkas tidak akan kuat alias pasti ngejepret.
Mendengar hal tsb saya menarik napas panjang dan sekali lagi memahami kondisi mba sambil ikut berpikir mencarikan solusi. Untuk persoalan pertama mengenai pengasuh bayinya, Mba dan suaminya berusaha mencari, ada yang bersedia tapi bayinya di asuh di rumah yang ngasuh bukan di rumah Mba Kemi, yah apa boleh buat daripada ngak ada sama sekali yang ngasuh bayinya selama di tinggal ibu bapaknya kerja. Satu masalah selesai, persoalan berikutnya adalah tempt penyimpanan ASI yaitu kulkas. Saya menyarankan bagaimana dititip di tetangga, ya coba deh PDKT sama tetangga siapa tau ada yang bersedia dititipi ASI perah di frezzer kulksnya. Ternyata tetangga-tetanggs nya pun tidak memiliki kulkas. Berarti harus cari jalan lain untuk menyimpan stok ASI.
Di dalam kumpulan artikek ASI yang saya bagikan pada temen2 pabrik, ada tulisan dr Utami Roesli, bahwa tidak memiliki kulkas tidak menghalangi seorang ibu bekerja untuk tidak bisa memberikan ASI ekslusif 6 bulan pada bayinya. Dan kebetulan juga ada seorang teman pabrik pernah mempraktekan menyimpan ASI di termos ketika dia dan bayinya harus menginap beberapa hari di kontrakan suaminya yang tidak ada kulkas. Saya, Mba Kemi dan teman lainnya jadi ikut sama-sama belajar tips-tips menyimpan stok ASI dalam termos. Saya optimis insya allah masalah ngak punya kulkas sudah bukan menjadi kendala Mba Kem. Selanjutnyauntuk memotivasi mba, saya berburu tulisan ibu2 menyusui dengan berbagai kendala yang harus mereka hadapi tapi tetap bisa lulus ASIX.
Akhirnya Mba Kemi mulai masuk masa cuti, hari-hari terakhir bertemu Mba di musola, Mba dan suaminya sudah bertekad bulat untuk melahirkan di Rancaekek. Terharu rasanya, saya jadi bangga dan kagum pada mereka yang mau berjuang demi ASIX. Pesan terakhir saya “Mba kalo ada apa-apa jangan sungkan-sungkan untuk hubungi saya, mudah2an saya bisa bantu”.
Sebulan kemudian saya mendapat kabar dari suami Mba bahwa Mba sudak melahirkan bayi laki-laki dengan operasi caesar di RS terdekat, Mba dan si bayi sehat walafiat, alhamdulillah. Namun saya mendapat kabar buruk, yaitu mba tidak di beri kebebasan oleh petugas RS untuk menemui dan menyusui bayinya dengan alasan karena Mbak melahirkan caesar. Segera setelah mendengar kabar tersebut saya sharing dengan teman-teman dan Tim Klasi Bandung (Dinny dan Linda). Mendengar kabar ini Linda dan Dinny tergerak hatinya untuk mengunjungi Mba Kemi di RS. Karena pada waktunya itu kita sedang sibuk-sibuknya di kantor masing-masing, kita baru bisa mengunjungi mba keesokan harinya.
Lokasi tempat kami kerja dengan rumah sakit lumayan jauh, Linda berangkat dari Dago dan Dinny dari Ujung berung, kalo saya sih masih keitung dekat. Kami bertiga tiba di RS dan menemui Mba, mendengarkan cerita Mba dipersulit oleh petugas RS untuk bisa bertemu dan memberikan ASI pada bayinya, kemudian kami bertiga berusaha mencari tau bagaimana fakta yang sebenarnya dengan bertanya kepada beberapa petgas yang sedang berjaga saat itu.
Rupanya memberikan ASIX belum menjadi prosedur utama di RS tsb, lalu kami menemui manajemen RS, berusaha menyampaikan keluhan dan keinginan kami, mba pun diberi kemudahan untuk bisa menemui dan menyusui bayinya. Setelah urusan selesai kami kembali ke tempat kerja kami, di luar RS saat itu hujan deras, Dinny sedang hamil besar berdua Linda kembali ke Bandung naik angkot, salut pada Dinny dan Linda yang mau jauh2 datang untuk memberikan support pada Mba Kemi, terima kasih teman2.
Alhamdulilah setelah kami mengunjungi RS, Mba bisa bebas bertemu bayinya, meskipun kadang mba musti sedikit ngotot pada petugas. Semangat mba patut di acungi jempol. Meskipun menemui kendala, mba ngak mudah putus asa, mba ngak sungkan meminta bantuan pada kami, empat hari di RS akhirnya mba dan bayi laki2nya diijinkan pulang, saya dan mba masih sering kontak lewat sms.
Hari-haripun berlalu, tak terasa mba sudah waktunya untuk masuk kerja lagi, masalahnya mba ngak punya kulkas menyimpan stok asinya. Tetangga ngak ada yang punya kulkas, mencari warung yang menjual es batu pun ternyata ngak semudah yang dibayangkan (tadinya sayang pikir pasti banyak warung yang menjual es batu dan bisa langganan beli es batu setiap hari) unttuk mencari es batu, suaminya harus mencari kesana kemari dan akhirnya bisa dapat es batu dari warung yang letaknya jauh dari kontrakannya.
Sampai disini kok jadi saya yang pesimis, namun rasa pesimis itu saya singkirkan, dan tetap memberikan semangat pada mba dan suaminya. Mba dan suami setiap hari sama-sama berjuang menghadapai segala macam kendala dan keterbatasan demi ASI (mba harus ektra usaha memanage stok asi, suaminya berburu es batu, mba yang buruh pabrik dengan jam kerja shift harus meluangkan waktu di sela waktunya setiap 2 jam kerja memerah asi, sering kali mba harus kejar-kejaran stok asi dll). Belum mba dan suami mendapat cemoohan dari lingkungan sekitar yang tidak mendukung pemberian ASIX, bahkan pengasuh bayinya pun sempet ngeyel untuk memberikan bayi mba susu formula dan MPASI sebelum usia bayi 6 bulan.
Mba dan suami menghadapi berbagai rintangan yang cukup berat, namun mereka pantang menyerah untuk terus berusaha memberikan ASIX pada bayi mereka. Dan alhamdulillah sepanjang yang saya ikuti perkembangannya bayi mereka tumbuh dengan sehat.
Lama tidak mendengar kabarnya, waktu itu saya sudah tidak bekerja dan sedang repot-repotnya persiapan pindah rumah ke Jakarta. Tiba2-tiba saya mendapat sms dari mba yang mengabari bahwa saat itu mba di diagnosa demam berdarah dan harus di opname. Masalahnya stok asi untuk bayinya tidak cukup, mungkin karena mba sakit jadi asinya kurang, hebatnya mba ngak menyerah dia tetap memberikan asinya.
Saya ingat betul waktu itu hari kamis 2 juli 2009 dimana saya sedang ada urusan dan masih ada beberapa yang belum beres untuk kepindahan rumah saya. Tiba-tiba dapat sms lagi dari Mba, segela saya telepon balik, ternyata mba sudah di opname, mba tetap memerah asinya (atas sepengetahuan dokter yang merawatnya), tapi stoknya tidak cukup karena si bayi sedang rakus-rakusnya minum Asi. Saat itu saya merasa tidak ada yang bisa saya perbuat, untuk menolong mbak, akhinya saya menjelaskan bahwa dalam kondisi darurat ibu bisa memberikan susu formula pada bayinya sebagai jalan terakhir. Tau ngak apa tanggapan dari Mba Kemi “... tapi kalo bayi saya diberi susu formula sayang bu, karena sebentar lagi lulus ASIX”. Ya Allah mendengar tanggapan mba, pipi saya serasa di tampar keras sekali, saya malu dan merasa egois sekali, dalam kondisi begini hanya karena sedang sibuk dan tanpa mau berusaha berpikir panjang membantu Mba Kemi, saya dengan entengnya menyarankan bayinya mba di beri susu formuka. Padahal selama ini sejak awal mba hamil saya selalu mendorong mba untuk berjuang demi asix. Saya lupa bisa menyusui anak kedua saya sampai detik ini (2 tahun 2 bulan) juga karena dukungan dan bantuan teman-teman saya. Masa kali ini saya ngak bisa apa-apa untuk membantu mba yang benar-benar sedang membutuhkan pertolongan.
Akhirnya tanpa pikir panjang saya tawarkan apakah mba mau menerima donor asi, kalo mau syaa usahakan hari itu juga mencari donr asi dan kalo sudah dapat akan segera saya antar ke RS, mba mau menerima donor asi. Segera saya sebar pengumuman melalu sms ke teman2 saya untuk mencari donor asi, alhamdulillah waktu itu dalam kondisi singkat dapat jawaban dari dinny bahwa dia bersedia mendonorkan asinya.
10 botol ASI saya ambil di kantor Dinny (Dinny sempat ngambil botol2 tersebut di rumahnya). Dinny memang punya stok asi yang bisa didonorkan. Padahal sebenarnya saat itu dinny juga sedang kejar-kejaran stok memenuhi kebutuhan bayinya, subahanalloh saat itu keikhlasan kami sedang di uji saat itu yang kami pikirkan hanya 1, bayi mba kemi tidak boleh kehabisan asi. Jam 12 asi donor dari dinny berhasil di antarkan dan sampai ke tangan suami Mba Kemi. Alhamdulilalh lega sekali rasanya. Beberapa hari kemudian saya dapat kabar mba sudah keluar dari RS. Mba mengucapkan terima kasih karena asi donor dari dinny menyelamatkan bayinya dari sufor, alhamdulillah.
Waktu pun berlalu, saya pindah ke jakarta. Suatu sore saya mendapat telepon dari suami mba, dia curhat bnyinya ngak mau menyusu ke ibunya, di beri dot juga susah ngak mau sama sekalu minum asi, saya menyarankan untuk menghentikan pemberian dot, diganti dengan menyuapi asi pakai sendok dan untuk mengatasi supaya mau menyusu langsung ke payudara ibunya dicoba dengan berbangai cara
dengan kesabaran dan kasih sayang insya Allah bisa teratasi.
Setelah curhatan itu, saya ngak dapat kabar apa-apa lagi dari Mba Kemi sampai tanggal 31 Juli 2009 saya dapat sms dari mba yang mengabarkan bahwa bayinya sudah lulus asi ekslusif, subhanalloh alhamdullilan membaca sms Mba Kemi mata saya berkaca-kaca mengingat beratnya cobaan yang harus di alami Mba Kemi dan suami lalui, oh iya alhamdullilah bayinya sudah mau menyusu langsung ke ibunya.
Rasa syukur dan bangga sekali pada mba dan suami. Bravo mba. Dalam smsnya mba menuliskan kata-kata “ betul ya bu, kalau kita mau usaha dan berdoa ternyata bisa dan Allah selalu memberikan jalan untuk kita” iya mba, allah memang memberikan jalan karena mba dan suami tidak mau menyerah pada keadaan.
Dari cerita perjuangan Mba Kemi, saya mendapat pelajaran hidup, asi telah menyeret hati nurani saya untuk selalu berbagi dan berusaha sekuat tenaga untuk membantu sesama ibu yang ingin bisa menyusui bayinya.
Ketika bertemu dengan ibu yang mengalami kesulitan memberikan asi, kita harus berada di pihaknya, berusaha mengerti dan memahami apa saja kesulitan yang sedang dihadapi, dukungan yang besar dari lingkungan sangat berarti untuk ibu sedang mengalami kesulitan menyusui (itu lah yang saya rasakan).
Bagi ibu yang sampai saat ini masih menemukan kendala dalam memberikan asi pada bayinya berusahalah ibu, jangan menyerah berkacalah pada kisah perjuangan Mba Kemijem yang tetap berjuang pantang mundur menghadapi berbagai rintangan dengan buah cintanya.
Menjadi seorang ibu adalah perkerjaan yang mulia meskipun mengemban tugas yang berat memelihara, menjaga dan merawat anak2nya, tuhan telah memilih kita untuk menjalaninya jalanilah dengan penuh kesabaran keihlasan dan cinta.
Akhir kata mudah-mudahanan tulisan ini bisa menggugah hati kita semua yang saling peduli dan berjuang pantang menyerah agar bayi-bayi bisa mendapatkan haknya yaitu asi.
Ira Indiana - Tim KLASI Bandung