Selasa, 23 Jun 09
Siang itu, aku dapat kabar dari mas anggi kalau istrinya sudah melahirkan hari itu. Lalu, kakak mengabari Fatimah (sepupuku di Sengkang) juga baru saja melahirkan.
Bahagia sekaligus khawatir karena mereka bersamaan denganku juga waktu perkiraan lahirnya. Tapi sampai hari ini, tanda-tanda melahirkan pun belum aku rasakan.
"Tinggal aku yang belum melahirkan". Aku mulai resah.
Sorenya, jadwal kontrol ke dr. Lina di Sukamiskin. Kebetulan dr Lina baru datang hari Korea selama seminggu, dan baru praktek hari ini.
Mungkin, Imma lahir nunggu dokternya datang kali yah...
Kali ini aku berharap sudah ada tanda-tanda menuju kelahiran.
Saat pemeriksaan, dokter melakukan pemeriksaan dalam. Linu banget. Dan dokter bilang kalau sudah ada pembukaan 2cm. Dokter mengeluarkan tangannya yang berlumuran darah.
Uih...linu sekali aku lihat darah itu. Dokter bilang "Ini efeknya 2-3 hari. Kalau ada darah keluar itu wajar. Kalau sudah ada kontraksi yang semakin sering, baru tanda2 melahirkan".
Aku pulang dengan hati berdebar karena ini berarti tidak lama lagi. Dari yang aku tahu dan aku baca, pembukaan 1-4 antara 12-24 jam. dan aku berharap besok aku sudah bisa melahirkan dengan lancar.
Sampai rumah, rasa sakit akibat pemeriksaan dalam tadi masih aku rasakan. Dan aku sugestikan sebagai kontraksi. Malam itu aku tidak bisa tidur karena gelisah dan terus masih kesakitan. Rasa sakit itu semakin lama makin sering.
Aku takut kalau ini tanda-tanda melahirkan. Jam 12an, aku bangunkan kakak dan mamah untuk ke rumah sakit. Lalu aku sms dr Lina tentang apa yg aku rasakan.
Kami sangat senang karena sebentar lagi, Imma akan lahir.
Sesampainya di rumah sakit, bidan langsung memeriksa keadaanku dan bayiku, mulai dari NST (periksa kesejahteraan bayi), denyut jantung bayi, tes darah, tensi, sampai pemeriksaan dalam. Bidan bilang masih pembukaan 2. Lalu aku dinfus induksi dengan kadar yang masih rendah.
Kami selalu berdoa. Kakak dan mamah tidak pernah meninggalkanku. Mereka selalu di sampingku. Malam ini, aku tidak bisa tidur karena terus merasakan sakit dan rasa mulas pengaruh dari induksi. Setelah beberapa lama, tidak ada tambahan pembukaan. Masih di pembukaan 2. Aku makin resah karena seharusnya dengan induksi ini Imma sudah lahir.
Apalagi, sudah banyak orang yang baru datang, tidak lama masuk kamar bersalin, lalu melahirkan. Ada sekitar 5 orang malam itu yang telah melahirkan mendahuluiku. "Imma sayang, ayo donk..kenapa gak keluar2??"
Kakak dan mamah pun tidak dapat tidur. Kasian mereka..
Rabu, 24 Jun 09
Sampai pagi, belum ada perkembangan dari pembukaanku. Masih di pembukaan 2. Ya Allah...padahal aku udah setengah mati nahan rasa mulas induksi yang kadarnya terus ditambah, apalagi tadi malam aku tidak bisa tidur sama sekali jadi rasa lelah ini semakin terasa.
Dokter menawarkan untuk induksi balon. Aku teringat Teh Ineu yang saat melahirkan juga sempat memakai induksi jenis ini. Kakak sempat putus asa juga melihat aku terus menderita karena induksi. Sampai dia bilang "Cecar aja daripada nahan sakit2 gini". Tapi aku masih berusaha untuk normal, karena aku yakin aku pasti bisa. Hanya tinggal menunggu waktu saja.
Setelah melakukan beberapa tes seperti biasa, menjelang dzuhur akhirnya dilakukan induksi balon. Bidan memasukkan alat yang telah diisi air berbentuk seperti balon. Induksi balon ini efektif sampai pembukaan 6 saja. Biasanya pasien dengan alami menuju pembukaan selanjutnya sampai ke pembukaan 10.
Setelah dilakukan induksi balon, subhanallah...rasa mulas dan sakitnya melebihi rasa sakit diinduksi biasa. Lama sekali sampai di pembukaan 6. Menjelang malam, baru sampai di bukaan 6. Sedangkan pasien lain, sudah bayak juga yang sudah melahirkan. Kakak dan mamah makin resah melihat keadaanku yang seperti ini.
Kakak terus menerus tilawah dan mengajak Imma ngobrol agar cepat lahir, mamah pun tak ada hentinya berdzikir. Sampai malam, belum ada tambahan pembukaan. Masih di pembukaan 6. Malah sampai Kamis pagi, pembukaan malah menysut menjadi pembukaan 4. Ya Allah...kenapa Imma belum juga keluar?? Terkadang kami sempat berpikir, bahwa ke rumah sakit selasa malam itu adalah pilihan yang salah.
Karena sebenarnya memang belum waktunya aku melahirkan.
Kamis, 25 Jun 09
Kamis pagi, masih belum ada tanda2 melahirkan. Rasanya, rasa mulas yang aku rasakan dari kemarin sia-sia saja. Bahkan hasil balon yang sempat sampai pembukaan 6, malah menyusut menjadi pembukaan 4. "Udah mules setengah mati, masih di pembukaan 4".
Tapi, aku masih berusaha dan berjuang untuk normal. Kakak, mamah, dan papah yang kebetulan malam datang ke RS terus memberiku semangat dan doa. Sehabis mandi pagi, aku sempat jalan cepat mengelilingi ruangan di lantai 2. Bahkan sampai lantai bawah dan naik turun tangga hingga lantai 4 karena masih berharap bisa mulas normal dan melahirkan normal dengan cepat.
Namun, setelah pemeriksaan dalam, tidak ada juga tambahan pembukaan. Dokter menyarankan untuk pecahkan ketuban. Namun batasannya sampai 18 jam. Kalau sampai 18 jam belum juga melahirkan, jalan lain adalah harus cecar. Ya Allah, sepertinya dengar kata cecar adalah hal yang sangat mengerikan. Entah mengapa aku begitu teguh untuk normal. Kakak sudah hampir putus asa melihat penderitaanku sampai sempat menyarankan cecar saja.
Jam 10, dr Lina sendiri yang memecahkan ketubanku. Air ketubanku masih banyak dan masih jernih. Tinggal menunggu waktu sampai Imma lahir. Ya Allah...rasa sakitnya gak bisa ditahan. Tapi aku terus berusaha untuk menahan. Kadang, teriakan rasa sakit keluar dari mulutku. Suster, bidan, dan dokter terus memberiku semangat.
Dzuhur berlalu, ashar berlalu, menjelang maghrib, saat pembukaan 6 aku masuk ke kamar bersalin. Kakak, mamah, dan papah terus mendampingiku. Pembukaanku berjalan sangat lambat. TEman sebelah kamarku yang baru saja dipecahkan ketubannya, kurang dari 1jam sudah melahirkan. Tapi aku?? Sampai maghrib, belum juga ada tanda2 melahirkan. Kakak bilang "Sabar sayang, maghrib juga udah keluar". Tiap saat aku lihat jam, sampai maghrib, pembukaanku masih belum lengkap. Akhirnya setelah adzan Isya, aku merasakan rasa mulas yang teramat sangat, dan ada rasa ingin mengejan (rasa seperti ingin buang air besar).
Setelah dicek, pembukaan sudah lengkap. Dokter belum datang, masih dalam perjalanan, tapi bidan menyuruhku untuk menahan mengejan. Tapi aku tidak tahan. Lalu bidan membolehkan aku mengejan. Sampai dokter datang, semua bidan siap, dokter bantuan siap, tim perawat bayi siap. Tinggal menunggu Imma lahir.
Mamah dan kakak mendampingiku. PApah di luar karena tidak diperbolehkan masuk. Aku mulai berjuang. Aku seperti kehabisan tenaga, karena mengejanku tidak maksimal padahal aku sudah merasa maksimal. Mungkin karena menahan rasa mulas selama 2 hari ini. Subhanallah rasa sakit ini...Dokter dan bidan yang lain terus memberiku semangat. "Ayo sedikit lagi, rambutnya udah keliahatan". Namun proses mengejanku terus berhenti, bahkan dokter dan bidan yang lain sempat beristirahat karena capek menungguku.
Sampai 1 1/2 jam lebih aku terus mengejan. YA Allah, aku benar2 berjuang melawan maut. Kakak selalu bilang "Bayangkan Imma sudah lahir". dalam hati aku terus berkomunikasi dengan Imma "Sayang, ayo bantu bunda...Imma harus cepat keluar". Semua teori tentang relaksasi melahirkan, pernafasan, semuanya hilang. Dengan pengejanan yang terakhir, Imma lahir...Alhamdulillah...akhirnya....Pukul 20.15
Tangisan Imma membuat segala rasa sakit ini hilang. Keletihan berganti menjadi keceriaan. Tampak kakak dan mamah sangat senang, dan mereka berdua menciumku...Terima kasih ya Allah atas segala karuania-Mu, dan Engkau benar-benar Maha Pengasih dan Penyayang. Engkau masih memberikanku kesempatan untuk merawat si kecil Imma.
Air mata bahagia pun menetes dari mataku...Alhamdulillah....
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Dessy,,, jd takut nih.. hehe
BalasHapusTp begitulah perjuangan seorang ibu.
I love Mom,, I love Mom so muchh..
nyantai pit..semua udah ada jalannya kok.jangan takut. makanya surga itu di bawah telapak kaki ibu. Subhanallah..
BalasHapus