Minggu, 31 Mei 2009

Moga Lekas Sembuh, Ibu...

Belum sebulan cobaan kami hadapi, hari ini ditambah lagi.
Belum selesai ingatan Adi pulih kembali, hari ini Ibu masuk rumah sakit.
Ya Allah kenapa lagi ini??
Dalam hati aku hanya bisa berkata "Hadapi saja semua ini bagai air mengalir. Tidak ada yang bisa kita lakukan, hanya berserah diri dan berdoa. PASRAH".
Kasian melihat suamiku. Ingin sekali rasanya kami selalu ada di samping mereka saat2 seperti ini, namun kami terpisah pulau yang tidak segampang itu untuk sampai kesana. Harus cuti lah, belum lagi masalah biaya, yang sekarang saja kami persiapkan untuk biaya melahirkan bulan depan.

Beberapa hari yang lalu, darah ibu tinggi sekali sampai 140/70. Padahal normalnya cuma 120/70. Ibu mengeluh sering pusing, mungkin karena terlalu capek setelah mengikuti acara walimahan Kak Isma. Salahnya, tadi malam mungkin karena pusingnya kambuh lagi, ibu tidak nafsu makan. Sampai sarapan pagi hari ini pun, ibu tidak mau dan makin salahnya langsung minum obat.
Reaksi obat yang agak tinggi itu membuat tubuh ibu lemas, dan deman tinggi setelah meminumnya.
Ayah dan Adi langsung membawa Ibu ke Rumah Sakit Faisal Makassar. Dokter bilang yang kebetulan masih saudara, keadaan ibu tidak apa2. Jadi ibu hanya diinfus.

Keadaan ibu makin membaik. Ibu sudah mau makan. Mudah2an Ibu bisa cepat pulih dan cepat keluar dari rumah sakit. Rencananya setelah Adi ujian, mereka langsung menuju Bandung menengok cucunya yang baru lahir ini.

Teringat 1 tahun yang lalu, sekitar tanggal ini juga cobaan kami hadapi. Aku, ayah, dan ibu masuk Rumah sakit PELNI Jakarta secara bersamaan menjelang kepulangan Ibu dan Ayah ke Makassar. YA Allah...

****
Tentang Imma, Imma sudah menginjak 35 minggu sekarang. Gerakan Imma semakin kuat. Tak pernah satu menitpun tidak ada gerakan. Dalam keadaan bagaimanapun, aku selalu merasakan gerakannya. Beratnya sudah 2.6 kilo. Terakhir USG kemarin, posisi Imma masih terlentang. Kata dokter sebaiknya posisinya terlungkup agar mudah melahirkan. Tiap hari kami mengajak Imma berkomunikasi, dan kami selalu bilang agar dia berposisi terlungkup. Mudah2an saat melahirkan nanti semuanya dipermudah. Amin....

****

Selasa, 26 Mei 2009

Teruntuk suamiku tercinta

" Teruntuk suamiku tercinta"

Allah memberikan karunia yang begitu besar. Tidak ada yg lebih membuatku bahagia selain berbakti menjadi istrimu. Dalam tiap sadar dan tidurku, aku selalu bersyukur mempunyai suami yang begitu mulia sepertimu. Sangat beruntung aku memilikimu. Kesetiaanmu, pengorbananmu yg tak pernah habis, kesabaranmu..semuanya begitu tulus. Malu aku menerima itu semua, karena aku sebenarnya tak pantas. Bagaimana aku bisa membahagiakanmu, suamiku? apakah aku dapat menemukan pintu surgamu di kakimu?
Teruntuk suamiku tercinta, tetaplah disampingku, membimbingku, menjagaku, dan memapahku dalam setiap langkah hidupku sampai akhir hayatku. Ya Allah, izinkan aku menjadi istri yang bisa membahagiakannya dengan kekuatan iman yang Engkau beri.
Teruntuk suamiku tercinta, janganlah pernah lelah jalani hidup bersamaku. luph u.."

With Love,

Istrimu yg selalu mencintaimu

Kamis, 21 Mei 2009

5 Hal Mengapa Pria Tidak Mengucapkan "i love you" kepada Anda

Apakah anda termasuk salah satu perempuan yang tidak pernah mendengarkan kata-kata sakti "i love you" atau "aku cinta kamu" dari suami?

Anda jangan buru-buru memvonis suami dahulu, karena kebanyakan pria akan menunjukkan rasa sayangnya dengan tindakan dan perbuatan, misal dengan antar jemput anda untuk kerja / arisan, membawa oleh-oleh, memijat saat anda mengeluh capek, dll...

Berikut ini Beberapa Hal Mengapa Pria Tidak Mengucapkan "i love you" kepada Anda

Ada beberapa penyebab mengapa pria tidak menyatakan rasa sayangnya kepada pasangan melalui kata-kata. Hal ini biasanya berkaitan dengan karakter pria tersebut.

1. Menurut Dr. Brenda Shoshanna, psikolog dan penulis sejumlah buku seperti Zen And The Art of Falling In Love, mengatakan "I love you," sama artinya dengan menawarkan komitmen. Bagi banyak pria, cinta diekspresikan melalui tindakan, sehingga kata-kata ini adalah janji mengenai apa tindakan selanjutnya. Hanya dengan membalas ucapan Anda, pria akan merasa harus menyetujui dukungannya pada Anda. Misalnya, menikah, membelikan rumah, dan sebagainya.

2. Pada pasangan yang masih dalam tahap pacaran, pria enggan mengucapkan kalimat tersebut karena belum yakin apakah dirinya memang betul-betul mencintai pasangannya. Bagi mereka, kata cinta harus diucapkan dari hati, dengan sungguh-sungguh, bukan sekadar untuk menyenangkan hati pasangannya (meskipun ada juga yang melakukan hal ini).

3. Pria yang lain memang cenderung sulit mengekspresikan perasaannya. Orang yang sejak kecil tidak dibiasakan mengungkapkan rasa sayang kepada orangtua melalui kata-kata, ketika dewasa pun akan cenderung seperti itu. Baginya, lebih baik rasa sayang diperlihatkan melalui perbuatan, atau pemenuhan kebutuhan pasangan. Misalnya, menyediakan waktu untuk menemani Anda berbelanja di hypermarket, meskipun ia tidak menyukainya.

4. Pria yang lain lagi tidak ingin terlihat cengeng dengan mengucapkan kalimat tersebut, apalagi jika kepergok mengucapkannya di depan teman-temannya. Jika ia tahu lingkungan pergaulannya termasuk yang memiliki kebiasaan yang sama, mungkin ia pun akan melakukannya. Jika tidak, lebih baik tidak mencari masalah.

5. Pria yang pernah menghadapi kegagalan dalam hubungannya, seperti bercerai, berebut hak asuh anak, dan sejenisnya, juga akan berpikir lebih lama untuk menambahkan komitmen baru ke dalam dirinya (lihat nomor 1). Ia akan memilih lebih berhati-hati, karena tidak ingin melukai perasaan Anda, dan mengulang kesalahan yang sama. (sumber : kompas)

************************************************************************************

Jadi inget ayah pupu. Hehehe...

Diantara kita berdua, aku yg paling sering bilang "I love u"

Tapi ayah juga setelah nikah gak malu2 lagi bilang sayang, love u.., luph u...

Biasanya yang paling khas "Ayahnya chayankkkk cekali ma bundanya.."

Dan aku biasanya menjawab "Bundanya lebih chayank tau sama ayah..."


Senin, 11 Mei 2009

Imma 25 Minggu

Hari ini, sudah waktunya kita ketemu Imma lagi.
Imma udah berapa kilo yah??kayaknya tambah ndut yah..soalnya tendangan immanya makin kuat.
Seperti biasanya pagi2 ke RS dulu daftar, bis itu ke kantor dulu. jam 10an baru ke RS lagi.
Kayaknya Imma udah gak sabaran ketemu ma Nenek Dokter. Begitu biasanya kami memanggil dr. Lina Karlina, Sp.Og.

###
"Neh kepalanya, normal", begitu kata nenek dokter. Alhamdulillah, jawabku dalam hati. Gak sabar kita melihat wajahnya.
"Tuh mukanya...matanya kedip2..lagi bangun tuh.", kata nenek dokter.
Kita berdua tertawa melihat aksinya dari usg. Walaupun cuma usg 2 dimensi, namun wajahnya sudah terlihat jelas. Matanya belo kayak bundanya. Hidungnya mancung kayak ayahnya, bibirnya kecil kayak ayahnya.Hmmm pipinya chubi kayak bundanya.
Seneng banget ngeliatnya...keajaiban di dalam rahim seorang wanita. Subhanallah.
Gerakannya terkadang seperti orang maen "ciluk ba", tangannya menutupi mukanya, lalu dibuka lagi.Ih Imma, godain nenek dokter yah...
Lucuuuu cekali anaknya bunda ini...

Trus dokter menujukkan semua organ tubuh Imma.
Alhamdulillah semuanya sempurna.
Berat Imma sekarang udah 1800 gram. Dan kata dokter normal.
Padahal bundanya udah takut kegemukan aja. Soalnya bundanya semua2 dimakan.

Selasa, 05 Mei 2009

Muhasabah Cinta

MUHASABAH CINTA --> Edcoustic


Wahai pemilik nyawaku, betapa lemah diriku ini
berat ujian dariMu
kupasrahkan semua padaMu

Tuhan, baru kusadar indah nikmat sehari itu
tak pandai aku bersyukur
kini kuharaokan cintamu

kata2 cinta terucap indah mengalir berdzikir di kidung doaku
sakit yg kurasa biar jadi penawar dosaku
butir2 cinta air mataku teringat semua yg kau beri untukku
ampuni khilaf dan salah selama ini ya Illahi
muhasabah cintaku

Senin, 04 Mei 2009

1st Anniversary

Happy Anniversary Sayang...

5 Mei 2009

Pagi-pagi kakak telp
"Assalamualaikum Bunda, udah bangun??"
"Udah dunk ayah, abis sholat subuh. Ayah, met ulang tahun pernikahan yah..", sambil menangis karena aku membayangkan dia ada di sini. Dan aku memberinya surprice kecil di pagi hari seperti biasanya.
"Iyah, sama2...Ayah tunggu2in berharap bunda sms di tengah malam."
"Kan kita nikahnya pagi, bukan Malam."
"Oh iyah bener juga"
Pembicaraan selanjutnya tentang Adi. Demam Adi sudah mulai turun. Ingatannya pagi ini sudah ada perkembangan. Biasanya bangun tidur, Adi lupa kejadian sebelumnya, tapi pagi ini ketika kk tanya. Siapa saya?? Dia jawab "Arno". Alhamdulillah berarti dia tidak lupa lagi. Mudah2an sedikit demi sedikit ingatannya akan segera pulih. Amin.

Lalu, aku sms kakak kenapa tadi aku menangis.
"Bundanya sedih, pas 1st anniversary kita, ayah gak asa di samping bunda, padahal bunda udah nyiapin surprice kecil pagi hari", begitu smsku
"Ternyata Allah punya surprice buat kita. Cabal ya bunda ma Imma Chayank. Mmuach...Chayank sekali pupunya...", begitu balesan SMS kakak. (pupu/mumu : panggilan kesayangan kita)
"Iya Allah kasih surprice buat kita duluan yah. Kalo ini azab, hadiahnya penghapus dosa kita. Tapi kalo ini ujian, hadiahnya kita naik tingkat lagi ya ayah...AMIN..yang penting doanya. Mudah2an kita jodoh dunia akherat, langgeng sampe kakek nenek, sampe maut memisahkan kita. AMIN...Imma ma bunda sayangggg sekali ma ayah".

Minggu, 03 Mei 2009

Masih tanpamu..

"Bunda...bangun..dunk..", pagi2 kk sudah telp.
Sambil lihat jam ternyata sudah pukul 04.53. Ya Allah, aku telat bangun.
"Iya ayah...bunda telat bangun.."
"Imma udah bangun belum??"
"Udah bangun dunk, dia mah udah bangun dari tadi", jawabku.

****
Aku melakukan aktifitas pagi seperti biasanya. Nonton, "Mamah & Aa", nonton berita, minum susu, sarapan pagi.

Bedanya : Pagi ini, aku tidak membuatkan ayah teh panas, ayah juga gak buatin Bunda ma Immanya shake. Tugas ayah tiap pagi memang membuatkan shake buat Bunda ma Imma.
Bedanya lagi, aku ke kantor gak sama ayah, tapi sama Pak Haris.
Padahal biasanya selama perjalanan ke kantor, kita hitung jumlah orang gila.

****

Hari ini Milad Ibu "Met milad ibu..."
sedih...apalagi teringat 1 taun yg lalu, ditanggal2 ini juga menjelang pernikahanku, ibu masuk ICU. sama ditanggal 4 Mei juga saat Milad ibu, ibu di rumah sakit. Dan sekarang, adi yang di rumah sakit.
Sedih sekali rasanya, apalagi besok berarti ulang tahun pernikahan kita yang pertama.
"1st anniversary"
Ayah besok udah di Bandung belum yah?? Mudah2an besok ayah udah pulang, dan di sana udah beres.

****

Ya Allah, jika ini adalah azab dariMu, mudah2an bisa menjadi penghapus segala dosa kami.
Namun jika ini adalah ujian dariMu, berikanlah kami kesabaran dan kekuatan untuk bisa melewati ini semua, dan kami bisa lulus ujian dariMu, seperti kekuatan untuk lulus di ujian-ujian sebelum ini yang pernah Engkau berikan. Amin...

Lindungilah suamiku dan keluarga kami dimanapun mereka berada.
Hanya Engkau yang bisa melindungi mereka dari apapun juga.
Hanya Engkau yang bisa menjaga mereka dari apapun juga

Engkau yang Maha Mengatur segalanya...
Engkau yang punya Skenario kehidupan ini...

****
"Dorr...ayo imma ketangkep kakinya. hehehe. imma gi belajar ya?? ayo belajar apa?? cucah gak?? pucing imma nya??"

Itu sms kakak. Biasanya kita main tangkep2an kaki ato tangan ma Imma. Gerakan Imma makin lincah. Kalo kakinya ato lututnya nonjok, suka ketangkep.

****

Hari ini, infus adi sudah dicopot, namun dokter belum memberikan analisa apa2.
Entah, kami juga bingung...
Aku hanya terus menunggu kabar baik dari seberang sana.
Aku yakin Allah menolong kami...

****
15.43
Barusan kakak telp. Kasian kakak.
Capek sekali nada suaranya. Infus Adi sudah dicabut, tapi malah demam.
Besok kakak sudah haru pulang, karena harus kembali bekerja. Lalu, siapa yang akan temani ibu, ayah sengkang, dan mengurus semuanya disana ?
Kasian kakak. Beban pikirannya bertambah, belum lagi tubuhnya yang semakin lelah.
Seandainya aku berada di dekatnya, setidaknya aku bisa membantu mengurusinya, atau menghiburnya. Atau aku malah menambah bebannya yah ?? Bisanya hanya menangis.

****

Sabtu, 02 Mei 2009

Minggu Tanpanya

Sangat berbeda pagi ini aku bangun dari biasanya. Ayah tidak ada disampingku.

Biasanya jam 4.15 aku sudah bangun, sholat tahajjud, lalu sholat subuh. Ayah masih berbaring di kamar. Sampai aku selesai mengerjakan semuanya, mencuci piring, beres2, dll, biasanya ayah langsung memanggil dari kamar "Nda...bunda...cini...", dengan manjanya dia terus memanggilku.
"Assalamualaikum ayah sayang...", lalu aku mencium kening, bibir, pipinya, semua2 nya...
"Waalaikumcalam...imma udah bangun belum??", masih dengan nada manjanya sambil mencium2 perutku.
"Imma udah bangun pagi2. udah sholah subuh, ayah...ayo kita jalan2..."
"Iyah. kita jalan2 yah. air panas ayah mana??", biasanya pagi2 ayah selalu minta dibuatkan air teh panas.
"Udah sayang...udah bunda buatin. Ayo bangun sayang.."

Rutinitas pagi seperti itulah yang ada dalam rumah tangga kecil kami.

Bagaimana aku tidak merindukannya, ketika dia tidak ada??
Seperti pagi ini...
Dan ayah tidak menemaniku jalan pagi sama Imma.

******

Mamah, papah, dan adik2ku pulang sore. Dan enin yang menemaniku sampai kakak datang.
"Cepi lagi deh di rumah..", biasanya kata2 itu yg keluar dari mulut kk saat papah mamah pulang dari kunjungan rutin ke rumah.

Sore, kita 3G-an lagi. "Kangen cekali bundanya ma ayah...". Mungkin itu satu2 nya cara untuk mengobati rasa rindu ini sama kakak. Aku tunjukkan juga perutku seolah2 Imma juga bisa bertemu dengan ayahnya.

Keadaan Adi, semakin membaik, namun masih sering demam.
Mudah2an ingatannya akan segera membaik dan dia kembali mengingat semuanya.
Menjadi Adi yang periang seperti biasanya.
Tiap bangun tidur, Adi selalu lupa kejadian sebelumnya...
Ya Allah...

*****

Malam ini aku tidur lebih cepat, mungkin karena kecapean. Kakak juga disana tidur cepat.
Malam ini enin yang menemaniku tidur.

Dan seperti malam2 biasanya, kami selalu berharap besok ada dari baik dari Adi.
Amin...

Ditinggal ke Makassar

Masih belum ada kabar baik dari Adi.

Pagi ini kami terkejut karena ayah dan ibu sudah diberitahu oleh Papi (adik kandung ibu).
Lalu kami menelpon ayah dan ibu. Dan mereka memutuskan untuk ke makassar saat itu juga.
Subhanallah. Padahal ibu tidak pernah berpergian jauh (hanya saat kami menikah saja). Dan saat itu, kondisi ibu alhamdulillah sehat walafiat. Dan kami sangat mengkhawatirkan kondisi ibu diperjalanan 6 jam menuju Makassar.

Kakak tampak bingung sekali untuk memutuskan pergi ke makassar atau tidak. Gimana gak bingung dia meninggalkan istri yg sedang hamil yg terus menerus menangis.
Namun aku terus coba kuatkan diri agar tidak terus menerus menangis. Dan terus coba meyakinkan kakak bahwa aku tidak apa2 ditinggal, karena mamah, papahku siap menemaniku dirumah.

Akhirnya kk putuskan untuk ke makassar hari ini juga. Setelah dibantu kak Asdar cari tiket, kk memutuskan untuk ambil tiket yg jam 3 sore. Kakak berangkat dari rumah jam 11, diantar pak Haris sampai ke Bandara. Sedih sekali...Selama ini baru ditinggal jauh. Ditinggal malam karena gangguan aja nangis, apalagi ini...

"Jagain bundanya ya, Imma chayank..jangan nakal", katanya sambil mencium perutku.
"Ati2 ya Ayah sayang...", kataku sambil menangis..

Aku tinggal sendiri dirumah. Mamah papah mungkin jam setengah 7an baru sampai ke bandung.
Sepi..sekali...tiap beberapa menit kakak telp atau aku yang telp.
Hal seperti ini yang paling aku benci. SENDIRIAN di RUMAH. Bukan karena takut, tapi sepi.
Mungkin kalo Imma udah lahir, udah gak sepi lagi kali yah...

Aku cuma bisa berdoa...mudah2an Adi cepat pulih kembali...sehat kembali seperti sedia kala.

Jam 18.30, kakak sudah sampai di bandara Makassar. Alhamdulillah...
Kakak langsung menuju ke rumah sakit "Wahidin" Makassar.
Dan aku terus menunggu kabar baik dari seberang sana.
Sementara itu, mamah dan papah sudah sampai di rumah 18.45.
Ternyata adik2ku pun ikut semua, termasuk enin (nenek). Mereka tahu aku sangat sedih, dan mereka mengkhawatirkan karena dari kemarin aku nangis terus.

Kami tidak pernah putus komunikasi dengan keluarga di Makassar. Bahkan sempat juga kami 3G-an untuk mengetahui keadaan di sana.
Sedih sekali lihat kondisi Adi dari kamera 3G kami. Pandangan dia kosong. Mungkin dia bingung siapa kami,dll. Tapi Alhamdulillah keadaan ibu sangat sehat.

Ya Allah, berikanlah kami kekuatan dan kesabaran menghadapi segala cobaanMu.Amin...

Saat malam, mataku lelah sekali namun aku tidak dapat memejamkan mata. Mamah menemaniku tidur. Biasanya, kalau mau tidur kakak yg selalu menemaniku.
"Ayah, bunda ngantuk...kelonin..", manja saat tidurku tiap malam seperti itu...
Biasanya kakak langsung meninggalkan acara TV nya atau laptopnya untuk menemaniku dikamar, sambil mengipasiku karena kepanasan (hamil tua kali yah..), sambil mengelus2 perutku..karena Imma masih terus bergerak aktif padahal aku sudah sangat ngantuk.
Tapi malam ini...bukan kakak yg menemaniku...

Met bobo, Ayah...
Mudah2an besok pagi ada kabar baik dari Adi

Berita duka Jumat

Entah mengapa beberapa hari ini perasaanku tidak enak. Tidur tidak nyenyak, dan sering resah. Termasuk hari Jumat kemarin, 1 Mei 09. Dikantor pun, perasaanku makin tak manentu dan biasanya riang , aku tampak murung. Yang aku pikirkan suamiku. Setelah azan ashar, suamiku telp "Bunda, ayah harus ke makassar sekarang juga. Adi jatuh dari kamar mandi dan sekarang amnesia." Astaghfirullah....semuanya menjawab semua firasatku. Air mata langsung menetes. Saat itu juga aku sms Papah dan Mamah mengabarkan tentang adi dan meminta mereka untuk menemaniku di bandung.

Adi adalah adik iparku di makassar.
Kasian adi.. Padahal kemaren dia masih baik2 saja, dan sempat kami mengobrol dan sorenya sms-an. MasyaAllah..musibah tidak ada yg tau. Semuanya hanya Allah yang tahu.

Setelah shalat ashar, aku telp adi tapi yang angkat telp Hidayat (kakak kelas adi kuliah).
"Adi nya mana?"
"Lagi di kamar mandi, kak."
"Bagaimana keadaanya?"
"Fisiknya baik-baik saja, tapi dia lupa semuanya"
Begitulah pembicaraan kami di telp.

Beberapa menit kemudian, aku telp lagi. Dan adi mengangkatnya.
Secara fisik, adi baik-baik saja, nada bicaranya pun tidak berubah sama sekali.Bahkan dia sempat cengengesan seperti adi biasanya. Tapi dia benar2 lupa semuanya. Dia juga tidak mengenali aku, mengenali suamiku (kk nya sendiri), bahkan orang tuanya.
Ya Allah...mengapa semuanya menimpa adi?? Tangisku terus meledak.
Langsung terpikir di kepalaku, tentang suamiku yang betapa capeknya dia yg segera harus ke mksr, tentang ayah dan ibu jika mengetahui semuanya bahwa anaknya HILANG INGATAN. Bagaimana nasib kuliahnya...dll...semuanya bercanpur di kepalaku menambah kepenatan otakku.

Kasihan Imma (janin dalam kandunganku yang sekarang berumur 7 bulan). Maafin bunda, sayang...bunda gak tahan sampe harus menangis...Kubelai2 perutku yang semakin membesar ini.

Kutenangkan pikiranku, lalu aku sholat ashar dan berdoa mudah2an semuanya akan baik2 saja. Dan semuanya aku serahkan pada Allah, seperti yang selalu papah ingatkan "Semuanya sudah diatur oleh Allah. Kembali kita serahkan pada Allah".
Tak lupa aku pun terus menenangkan Imma "Gak pa2 sayang..bunda gak pa2 kok. Imma baik2 yah. Doain aja om adi baik2"

Pada dasarnya aku memang cengeng apalagi ditambah hamil yang katanya makin sensitif. Dalam keadaan seperti ini, hanya suamikulah yang membuatku "agak" tenang. Dia sama sekali tidak menunjukkan kepanikan yang teramat sangat seperti yg aku alami. Nada bicaranya masih biasa saja. Malah dia sempat tertawa2 dan ngobrol bersama adi sambil tertawa2. Dia yg malah menghiburku, bukan aku yang menghiburnya.

Kak yeni mengantarkan Adi ke rumah sakit. Kita terus menunggu kabar dari Adi. Hasil scan menunjukkan bahwa ada pendarahan sedikit di otak, dan adi butuh dirawat inap. Saat itu ayah dan ibu di sengkang belum tahu keadaan adi. rencananya besok pagi kami baru memberitahu mereka.

Malam ini, seperti malam2 biasa. Suamiku tidur lelap sekali, namun aku tidak bisa tidur sama sekali memikirkan Adi.

Ya Allah mudah2an besok pagi kami mendapatkan kabar baik dari Adi.